Aku ingat satuh hal. Di sebuah kesempatan, aku bertanya, “Mengapa kamu mau menjadi orang yang percaya pada mimpi-mimpiku di saat aku sendiri pun meragukannya?” Lagi, itu adalah pertanyaan serius. Pertanyaan yang sudah ku rencanakan sejak lama. Aku heran, di saat rasanya aku tak lagi punya tempat cerita bagi semua mimpi-mimpiku, kamu malah menganggap bahwa semua ketidakmungkinan itu tidak pernah ada. Kamu antar aku ke gerbang yg selama ini ku takuti, lalu kamu memperhatikanku dari jauh, seolah sigap menolong kapan pun aku terjatuh. Ah, mengapa kamu melakukannya? Mengapa kamu baik sekali? Mengapa seperti ini perlakuanmu? “Mengapa kamu baik padaku?” tanyaku padamu pada sore hari saat kita sedang menelusuri jalanan Pasupati. Tanya itu bukan kalimat impulsif yang asal keluar begitu saja dari mulutku, aku benar-benar ingin menanyakannya. Aku heran sekaligus bingung, ditengah-tengah dunia yang berubah menjadi semakin oportunis seperti sekarang ini, mengapa orang baik sepertimu masih ada dan...