teman baik
Aku ingat satuh hal.
Di sebuah kesempatan, aku bertanya, “Mengapa kamu mau menjadi orang yang percaya pada mimpi-mimpiku di saat aku sendiri pun meragukannya?” Lagi, itu adalah pertanyaan serius. Pertanyaan yang sudah ku rencanakan sejak lama. Aku heran, di saat rasanya aku tak lagi punya tempat cerita bagi semua mimpi-mimpiku, kamu malah menganggap bahwa semua ketidakmungkinan itu tidak pernah ada. Kamu antar aku ke gerbang yg selama ini ku takuti, lalu kamu memperhatikanku dari jauh, seolah sigap menolong kapan pun aku terjatuh. Ah, mengapa kamu melakukannya? Mengapa kamu baik sekali? Mengapa seperti ini perlakuanmu?
“Mengapa kamu baik padaku?” tanyaku padamu pada sore hari saat kita sedang menelusuri jalanan Pasupati. Tanya itu bukan kalimat impulsif yang asal keluar begitu saja dari mulutku, aku benar-benar ingin menanyakannya. Aku heran sekaligus bingung, ditengah-tengah dunia yang berubah menjadi semakin oportunis seperti sekarang ini, mengapa orang baik sepertimu masih ada dan masih Dia hadirkan untukku? Tapi tanyaku tak terjawab. Kamu hanya tertawa seolah kamu mengabaikan tanya ku dan justru malah memerhatikan layangan yang beterbangan disisi kanan Pasupati, yang entah bagaimana aku harus mengartikannya tapi aku tetap menunggu jawabanmu.
Rasa penasaranku belum selesai, aku lantas mengirimimu sebuah pesan dan kukatakan, “Aku ini banyak kurangnya, aku ini punya sesuatu yang masih ku usahakan yang aku takut itu berdampak tidak baik bagimu, mengapa kamu masih mau bertahan menjadi orang baik yang ada di hidupku? Aku juga menyebalkan, selalu saja memintamu untuk melakukan yang aku ingin walau ku tahu kamu tidak menyukainya, mengapa kamu tidak pergi saja?” Kamu tahu, aku sendiri saja bahkan kesulitan untuk menerima diriku sendiri. Maka, jika ada yang melakukannya jauh melebihi ekspektasi yang aku miliki, aku jadi heran. Hatimu itu terbuat dari apa? Mengapa masih saja ada didekatku?
Keesokan harinya tepat siang tadi, jawabanmu membuat ku terkesan. Katamu, “Kebaikan itu terkadang tidak butuh alasan, karena urusanku yang sebenarnya bukan denganmu, tapi dengan-Nya, karena izin-Nya aku mampu membersamai juangmu, menghadirkan kebaikan-kebaikan dalam setiap langkah bersamamu. Aku jarang memintamu untuk berubah menjadi ini dan itu, hanya saja saat aku melihatmu berbelok arah, jelas tak segan aku mencegahmu merasa nikmat di arah itu. Hanya yakin, jika aku disini, kamu dan aku bisa terus bertumbuh lagi dan lagi setiap hari.” Duh, mengapa aku merasa bersalah dan mengapa tak pernah memikirkannya? Tapi aku setuju, sebab nyatanya menjadi baik dan berbuat baik adalah kewajiban kita semua. Urusannya tak selesai di dunia, tapi memanjang hingga menghadap-Nya.
Untukmu. Terima kasih telah menjadi teman baik. Semoga Dia memberimu balasan terbaik. Aamiin
Comments
Post a Comment